Kamis, 20 Oktober 2011
Selasa, 18 Oktober 2011
Ribuan Anak Nikmati Beasiswa
Di bidang pendidikan, ribuan anak pribumi telah, sedang dan akan menikmati beasiswa mulai dari SLTP sampai Perguruan Tinggi (PT). Kepala Bagian Anak dan Pemuda Biro Pendidikan LPMAK, Thobias Yawame mengatakan program beasiswa diberikan kepada anak-anak 7 suku, Papua lain dan luar Papua, yang memenuhi kriteria sesuai pedoman beasiswa yang ditetapkan LPMAK.
Data LPMAK menunjukkan penerima beasiswa per Juni 2010 mencapai 529 anak. Rinciannya Amungme sebanyak 197, Kamoro 73, Damal 20, Dani 44, Mee 67, Moni 56, Nduga 44, Papua lain 16, dan luar Papua 12.
Selain itu LPMAK juga menetapkan sejumlah program kerja lainnya yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penyediaan asrama, peningkatan mutu pendidikan dasar dan bantuan kerjasama dengan lembaga mitra di bidang pendidikan.
LPMAK menerapkan program matrikulasi yang berawal dari keprihatinan melihat merosotnya pendidikan dasar di Kabupaten Mimika. Banyak anak-anak Kamoro dan Amungme yang hendak dikirim studi ke luar Mimika ternyata kemampuan akademiknya masih belum memenuhi persyaratan. Sehingga program matrikulasi membantu agar anak-anak mampu bersaing dengan siswa dari daerah lain di Indonesia.
Program matrikulasi dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga studi terkemuka di Jawa, Papua dan Sulawesi Utara. Untuk tingkat SMA, Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih di Semarang, SMA St. Nikolaus, Lokon, Tomohon dan SMA Tompasso di Sulawesi Utara.
Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan IKOPIN Bandung, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, UNIKA Widya Mandala Surabaya, UNIKA Soegijapranata Semarang, Universitas Negeri Papua Manokwari, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Klabat, Universitas Klabat, Universitas Negeri Manado, dan Universitas Katolik Delasalle Manado.
LPMAK sedikitnya juga telah membangun tujuh unit asrama, yaitu Asrama Putra Kamoro, Solus Pupuli, Asrama Putra/I Penjunan, Asrama Putra/I Bintang Kejora Kaokanao, Asrama Putra/i AMOR di Semarang.
Selain itu LPMAK melalui biro pendidikan juga memiliki program pelatihan kepemimpinan, pemberian bantuan sarana dan prasarana sekolah, pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah, serta mendukung pendirian sekolah-sekolah alternatif yang berkualitas serta berbasis masyarakat dan pengembangan kampung.
(sumaryoto&nelly bela/radar timika)
Data LPMAK menunjukkan penerima beasiswa per Juni 2010 mencapai 529 anak. Rinciannya Amungme sebanyak 197, Kamoro 73, Damal 20, Dani 44, Mee 67, Moni 56, Nduga 44, Papua lain 16, dan luar Papua 12.
Selain itu LPMAK juga menetapkan sejumlah program kerja lainnya yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penyediaan asrama, peningkatan mutu pendidikan dasar dan bantuan kerjasama dengan lembaga mitra di bidang pendidikan.
LPMAK menerapkan program matrikulasi yang berawal dari keprihatinan melihat merosotnya pendidikan dasar di Kabupaten Mimika. Banyak anak-anak Kamoro dan Amungme yang hendak dikirim studi ke luar Mimika ternyata kemampuan akademiknya masih belum memenuhi persyaratan. Sehingga program matrikulasi membantu agar anak-anak mampu bersaing dengan siswa dari daerah lain di Indonesia.
Program matrikulasi dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga studi terkemuka di Jawa, Papua dan Sulawesi Utara. Untuk tingkat SMA, Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih di Semarang, SMA St. Nikolaus, Lokon, Tomohon dan SMA Tompasso di Sulawesi Utara.
Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan IKOPIN Bandung, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, UNIKA Widya Mandala Surabaya, UNIKA Soegijapranata Semarang, Universitas Negeri Papua Manokwari, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Klabat, Universitas Klabat, Universitas Negeri Manado, dan Universitas Katolik Delasalle Manado.
LPMAK sedikitnya juga telah membangun tujuh unit asrama, yaitu Asrama Putra Kamoro, Solus Pupuli, Asrama Putra/I Penjunan, Asrama Putra/I Bintang Kejora Kaokanao, Asrama Putra/i AMOR di Semarang.
Selain itu LPMAK melalui biro pendidikan juga memiliki program pelatihan kepemimpinan, pemberian bantuan sarana dan prasarana sekolah, pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah, serta mendukung pendirian sekolah-sekolah alternatif yang berkualitas serta berbasis masyarakat dan pengembangan kampung.
(sumaryoto&nelly bela/radar timika)
Arti Natal
![]() |
| Add caption |
Perayaan Natal adalah sungguh wah dan gemerlap, dengan pohon-pohon cemara lengkap digantungkan hiasan-hiasan, kerlap-kerlip lampu, dan hadiah-hadiah dibawahnya. Malamnya, tepat pukul 24.00 dilakukan (kebaktian)/ saat teduh oleh umat manusia. Rumah-rumah pun dihias pohon cemara, juga toko dan plasa, gedung dan kantor. Acara-acara televisi marak oleh nuansa Natal. Instansi-instansi juga secara resmi merayakannya.
Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: pertama : perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua: perayaan Natal telah mencapai “maqam” gengsi simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang tidak “menyambut” perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga: seolah-olah mayoritas pend
Perayaan Natal adalah sungguh wah dan gemerlap, dengan pohon-pohon cemara lengkap digantungkan hiasan-hiasan, kerlap-kerlip lampu, dan hadiah-hadiah dibawahnya. Malamnya, tepat pukul 24.00 dilakukan (kebaktian)/ saat teduh oleh umat manusia. Rumah-rumah pun dihias pohon cemara, juga toko dan plasa, gedung dan kantor. Acara-acara televisi marak oleh nuansa Natal. Instansi-instansi juga secara resmi merayakannya.
Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: pertama : perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua: perayaan Natal telah mencapai “maqam” gengsi simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang tidak “menyambut” perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga: seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah mereka tidak lebih dari 15 %.
Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan-termasuk kaum Kristen sendiri yang paham tentang sejarah peryaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.
Langkah literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: pertama : perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua: perayaan Natal telah mencapai “maqam” gengsi simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang tidak “menyambut” perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga: seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah mereka tidak lebih dari 15 %.
Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan-termasuk kaum Kristen sendiri yang paham tentang sejarah peryaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.
Langkah literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
k negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah mereka tidak lebih dari 15 %.
Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan-termasuk kaum Kristen sendiri yang paham tentang sejarah peryaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.
Langkah literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan-termasuk kaum Kristen sendiri yang paham tentang sejarah peryaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.
Langkah literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
Langganan:
Komentar (Atom)






